Oke let me tell you..
Kali ini saya mau bercerita tentang hati saya yang sedikit gundah gulana, galau merajau, dan gelisah membasah #abaikan.
Beberapa hari lalu saya dan segerombolan orang teman (saya sebut segerombolan karena lupa jumlahnya). Baik lebih muda maupun tua, dari sabang maupun merauke #halah. Disana kami sedikit membahas tentang pernikahan, gak tau juntrungannya dari mana tiba2 bahas nikahan. Ini juga yang membuat saya menulis beberapa pertanyaan sekaligus konfirmasi berikut ini. Silakaaann..
“Kenapa sih kamu pengen cepet2 nikah?”
Bukan cepat2 menikah sebenarnya, melainkan NIKAH MUDA. *Apa bedanya?? Jelas bedaaaa.. cepet2 nikah itu kalo udah Halim Perdana Kusuma alias hamil duluan, atau udah kebelet, atau apapun yg mengharuskan kita untuk cepat2 menikah. Nah ini, cuma ingin nikah muda. Syukur kalo bisa setaun lagi Tuhan ngasih jodoh. Kalo 3-4 tahun lagi juga gpp, orang masih sesuai judul, NIKAH MUDA *nah tu saya perjelas*. Jadi bukan cepet2
“Eh nikah itu pake persiapan, gak pake dengkul sama jidat doang.”
Betuuuull. Saya SETUJU *huruf gede ya, tau
“Selain itu nikah itu juga perlu kemandirian. Contohnya Mbak S****. Dia berani nikah muda karena dia emang udah mandiri. Nah elu?”
Oke. Saya memang manja, tapi bukan berarti gak mandiri. Mau tanya mandiri soal apa dulu nih.. Udah beberapa tahun ini saya hidup sendiri. Pulang ke rumah pun bisa dihitung pake jari tiap bulannya. Kira2 seminggu sekali baru pulang. Kalo saya gak mandiri apa mungkin saya gak pulang ke rumah dan lebih memilih untuk hidup sendiri.
*Nah katanya manja?? Beneeerr, saya manja. Manja banget malah. Tapi sekali lagi, manja bukan berarti gak bisa hidup mandiri. Kalaupun manja, sama siapa dulu manjanya. Gak mungkin juga saya manja sama orang yang belum saya kenal. Masak ya tiba2 nemu orang di jalan terus saya manjain. Saya manja biasanya sama emak (panggilan saya ke nenek), ke pacar *kalo punya pacar. Kalo enggak ya siapa juga yg mau saya minta manja2in, haha*. Sama temen juga bisa, tapi yang deket. Manjanya juga biasanya seputar hal2 teknis yang gak bisa saya kerjakan, kalo bisa pasti akan saya kerjakan sendiri sekuat saya mampu.
Atau kalo lagi iseng, manjanya bisa muncul kalo lagi sms-an atau ngobrol. Misalnya pas sendirian atau ngerasa kesepian, saya bisa sms “Temeniiin...” Atau kalau sedang lari atau jalan kaki, “Kakiku capek ik.. Gendoooongg.. (dengan nada memelas)” Itupun sama sahabat2 yang deket yang bisa diajak canda ya. Sekali lagi, gak mungkin juga saya tiba2 minta gendong sama orang di pinggir jalan. Orang seumur2 sahabat yang saya minta manjain itu juga gak pernah gendong beneran. Yaiyalaahh, mana ada yang mau gendong karung beras setara 100kg gini. Hahhahahaa.. Cukup ketawanya!!! Lanjut ke kemandirian!
Kalo ditanya, apa kamu udah mandiri secara finansial? Memang belum. Tapi alhamdulillah ada beberapa yang bisa saya banggakan. Sedari SMA, saya sudah jadi guru les dan buka les-lesan di rumah (bisa diperiksa di rumah, sampe sekarang papan tulis masih terpampang jelas di ruang tamu, bekas saya ngajar dulu). Dari situlah saya bisa beli barang2 kebutuhan, tak terkecuali pakaian dan gadget yang saya punya saat itu. Juga untuk bayar sebagian uang sekolah saya sendiri.
*Kok bayar sekolah sendiri, Orang tua kamu kemana? Jujur saja, sejak SMP keluarga saya brokenhome. Mau gak mau saya juga harus bisa tough menjalani semuanya. Sebagian keuangan rumah tangga keluarga saya memang didukung dari Om saya, bahkan hingga sekarang saya dan
Banyak sih orang yang bilang, “Kenapa harus elo? Lagian elo
Mau sedikit pamer, beberapa waktu lalu saya barusan beli MOTOR dengan hasil jerih payah sendiri.
YA, 100% MOTOR UTUH BERIKUT SIM DAN PAJAK2NYA ADLH HASIL JERIH PAYAH SAYA SENDIRI DIBAYAR TUNAI.
Saya juga berani jamin, semua yang saya kenakan dari ujung kepala sampai kaki, termasuk semua gadget pribadi yang saya pakai adalah HASIL JERIH PAYAH SAYA SENDIRI *nah lho gede lagi
“Katanya pengen nikah muda, pas ada yang suka kok kamu malah ngehindar?”
Saya pertegas di sini, ngehindar bukan berarti munafik dari keinginan saya untuk nikah muda
Lagipula nikah gak cuma melibatkan satu orang, yaitu saya saja, tetapi melibatkan saya dan pasangan. Nah, kalo sayanya siap tapi pasangannya gak siap?? Ini juga yang sering saya temui di beberapa cowok. Maunya pacaran, tapi mangkir kalo diminta ngomongin yang serius2. Alasan klasikny adalah belum cukup finansial. Alasan yang membuat saya tak bisa berkutik. Jujur memang, saya gak nyari PACAR tapi nyari CALON SUAMI.
Tapi kalo yang dimaksud pada pertanyaan tadi adalah salah satu teman yang beberapa waktu lalu mendekati saya, oke saya jelaskan kenapa saya seakan menghindar. Saya katakan ‘seakan menghindar’ karena saya sebenarnya tidak ada niat untuk menghindar, tapi dia yang niatan mendekat *nah lho*. Sayanya biasa aja eh malah dianya agresif. Cewek mana yang gak takut. Katanya suka tapi kok agresif ngedeketinnya. Biasa ajalah ya seharusnya, kayak gak pernah PDKT aja sama cewek. Saya diam juga bukan berarti jinak2 merpati, tapi karena PERASAAN SAYA MEMANG BIASA2 SAJA. Seharusnya Anda yang ada di sana belajar dulu membaca simbol2 orang PDKT, mana yang lampu hijau mana yang lampu kuning.
Inilah alasan pertamanya, KARENA SAYA BENAR2 TIDAK ADA RASA SEDIKITPUN DENGANNYA. *sengaja saya gedein hurufnya, tau kan apa artinya?*. Perasaan saya dengannya sebatas teman, sama juga dengan teman2 lain. Kalaupun Anda curhat dan saya mendengarkan, bukan berarti saya suka sama Anda
Kedua, kurang lebih 3 tahun dalam pendidikan dan komunitas yang sama membuat saya tahu semua sifatnya. Karena saya tahu hampir semua sifatnya itulah, membuat saya berpikir berulang kali utk menjalin hubungan yg lebih dengan Anda. Gak sekali dua kali saya tahu cerita2 Anda sama cewek2 lain. Gak sekadar tahu malah, tahu banget. Mungkin sampe detailnya sekalipun. Orang Anda sendiri kan yang suka curcol ke saya..
Selain itu, saya melihat pada sisi emosionalnya. Apalagi ketika sedang menghadapi suatu masalah, Anda teramat menjadi seorang yang jauh dari harapan saya. Saya sendiri merupakan orang yang harus banyak belajar tentang mengendalikan emosional, jadi tentu saya mencari orang yang benar2 bisa mengerti dan menuntun saya menjadi lebih baik. Jangankan jadi suami saya, jadi pacar pun sepertinya Anda tidak bisa memahami saya yang terkadang labil. Lha wong jadi teman saja seperti itu.. Hehe peace \/b
Ketiga, tentang kemapanan. Pasti. Mungkin menurut Anda, Anda memang sudah mapan dengan usaha yang dipegang itu. Tapi saya juga punya ukuran sendiri tentang kemapanan. Mapan bagi saya juga meliputi kemandirian seperti yang saya ceritakan tadi. Bagaimana seseorang itu bisa tegar menghadapi masalah yang ada sekaligus mencari solusi yang tepat, bagaimana memperlakukan keluarganya (dan keluarga kecilnya nanti), serta mengelola keuangannya sendiri.
Of the record, beberapa mantan saya adalah pengendara mobil. Tapi ya itu, mereka hanya enak dijadikan pacar, bukan CALON SUAMI. Bagaimana tidak? Untuk uang saja mereka tidak bisa me-manage nya dengan baik. Hamburkan harta orang tua kesana-kemari, bangga memakai barang2 dari orang tuanya.. Macam apa itu, hahaa malu saya mah kalau saya sedemikian rupa. Buat para pria (saya sebut pria ya, bukan cowok! kalau belum tahu bedanya, buka blog saya sebelumnya: http://serena-wiramuda.blogspot.com/2010/12/bedanya-cowok-dengan-pria.html), belajarlah dari hal itu. Ya, pria mandiri luar dalam adalah poin penting bagi wanita.
Sama halnya dengan kemapanan, saya juga punya kategori sendiri tentang fisik. Gak munafik, pasti nyarinya yang tampan. Tapi tampan itu yang seperti apa? Tampan itu relatif cuy.. Tampan menurut saya adalah... Ahh rahasia, masak saya beberkan semua di sini. Hahahahaa. Let me see, baby.. Mungkin next time kali ya saya ceritakan, capek puasa2 cerita panjang lebar. Ntar haus gimana :P
Sekali lagi, saya memang dalam tahap membuka hati, atau nyari cowok, pacar, calon suami atau apalah terserah. Tapi ingat, saya juga pasti ngelihat dan memikirkan semuanya masak2. Dikira semua yang deket sama saya langsung saya terima?? Tentu tidak. Saya berhak untuk memilih satu di antara yang terbaik, untuk akhirnya benar2 menjadi pasangan seumur hidup saya. Kalau menurut saya sudah gak 'sreg' ya jangan maksa dan agresif gitu. Saya tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi diri saya sendiri.
Percaya aja sama Surat An-Nur 26,
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)"
Daaaaa, selamat siang ;)
2 comments:
salam kenal mbak Serena,
sy Fifi. nimbrung ya :)
dari ke-sok tau-an sy, memang laki-laki (atau pria, as you said), lebih banyak yg belum siap berkomitmen lebih jauh (baca: menikah) dibandingkan perempuan. mungkin karena memang belum berpenghasilan itu tadi, mungkin juga kalopun udah berpenghasilan masih pengen dinikmati sendiri, mungkin juga 'takut' sama pemikiran bahwa menikah itu somehow means that he's attached to one woman only (yang konyol juga sih sebenernya).
dan, law of attraction kayak di kutipan An-Nur itu emang bener-bener berlaku kok buat kita semua. jadi, cemungud mba!! hehe..
please have a visit to my mumble-memble.tumblr.com
thanks a lot :)
Wauw inspiratif bgt mbak Fifi ulasan singkat Anda barusan. Bisa jadi demikian mbak. Banyak pria yg belum siap berkomitmen dg alasannya masing2.
Untuk surat An-Nur pasti berlaku, banget banget. Tuhan maha adil, memberikan semuanya dg kadar yg sesuai.
I love "what’s in a name for (married) woman?" of you mbak, singkat tapi bermakna dalam. IMHO, seorang wanita memang sudah seharusnya mengikutkan nama suaminya di belakang nama itu sendiri.
Tengkyu so mats mbak Fifi :)
Post a Comment