Monday, April 20, 2009

tugas dari Om Ando

Ini adalah tugas saya dari Om Ando, membuat essai tentang Wiramuda untuk kemudian di-upload di rumahusaha.com. Dan inilah hasilnya...

Wiramuda, program 1 tahun yang mencetak anak-anak muda menjadi pengusaha. Program ini terdiri dari dua masa pembelajaran. Enam bulan pertama, mereka harus menjalani masa pendadaran. Enam bulan selanjutnya adalah masa pendampingan.

Setiap pagi, mereka mengikuti pelajaran bertajuk “Sarapan Pagi” bersama Eko Widhiandoko yang akrab dipanggil Om Ando pada pukul tujuh. Pada pelajaran ini, mereka tampak antusias menggali olah pikir tentang kehidupan. Bagaimana hidup berbisnis di luar sana, apa itu arti sukses, hingga bagaimana cara meraih kebahagiaan. Semuanya mereka peroleh dari sesi pelajaran ini.


Pukul delapan, para Wiramuda siap bergegas ke tempat magang masing-masing. Ya, kira-kira sejak bulan Februari lalu mereka memang ditempatkan di berbagai tempat usaha. Sebagian besar tempat magang adalah bagian dari JRU ( Jaringan Rumah Usaha ), seperti Salma Brotojoyo, Salma Sadewa, Warung Wedangan, Unik, Avis, Malik Foil, dan masih banyak lagi. Sebagian yang lain adalah usaha kriya yaitu Nuansa Bingkai di daerah Pattimura dan usaha kayu di kompleks BP Dikjur.

Setiap tempat magang terdiri dari satu orang atau lebih. Sekitar seminggu atau dua minggu sekali, tempat magang diubah. Misalnya, minggu lalu Tri Herwanti – salah satu wiramuda – ditempatkan di Salma Brotojoyo, minggu ini dia ditempatkan di Salma Sadewa bersama Paryono. Begitu pula dengan yang lain. Mereka selalu berubah-ubah tempat magang.

Kenapa harus selalu berubah-ubah tempat magang? Karena hal ini bertujuan agar para Wiramuda mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda. Selain agar tidak bosan, mereka diharapkan bisa memetik setiap pelajaran yang tersirat dari tempat magang masing-masing. Semua adil, jadi semua anak bisa merasakan magang di tempat-tempat tersebut tanpa ada yang merasa iri.

Hal ini terkecuali untuk para Wiramuda yang ditempatkan di usaha kriya. Diantaranya adalah Ahmad Surojudin, Taufan Jaka Andika, Sugiyanto, dan perempuan perkasa dari Wiramuda, Sutinah. Setelah kurang lebih mengetahui cara pembuatan figura di usaha kriya Pattimura, saat ini mereka ditempatkan di Kriya Kompleks BP Dikjur.

Mengapa mereka tidak berubah tempat magang atau tidak ditempatkan di tempat lain? Karena mereka memang lebih diarahkan ke usaha kayu – walaupun tidak menutup kemungkinan bisa membuka usaha lain. Untuk hal yang satu ini memang tidak ada yang protes atau iri. Mereka sudah mendapatkan jatah sesuai bidang masing-masing.

Di Wiramuda, hari aktif berlaku mulai hari Senin sampai Kamis. Pada hari Jumat pagi, mereka berolahraga. Dua minggu sekali senam di Kompleks BP Dikjur. Bila tidak ada senam, mereka berjalan-jalan ke tempat-tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka selalu bersemangat mengikuti pelajaran olahraga. “Hitung-hitung me-refresh tubuh”, katanya.

Setelah berolahraga, mereka ditugaskan ke tempat semula. Tetapi pada hari Jumat mereka diperbolehkan bekerja setengah hari. Mereka diperkenankan pulang pada pukul 12.00 atau setelah Shalat Jumat. Pada jam-jam inilah mereka biasanya siap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Maklum, selama kurang lebih lima hari – dari Senin sampai Jumat – mereka tidak bisa berkumpul keluarga. Mereka memang menjalani hari-hari di asrama.

Sedangkan hari Sabtu dan Minggu memang dikhususkan untuk beristirahat. Pada hari Sabtu dan Minggu-lah mereka biasanya menghabiskan waktu bersama keluarga. Hari-hari itu pula yang mereka gunakan untuk bertemu teman-teman lama. Dan tentunya untuk mengerjakan PR atau tugas yang telah diberikan oleh pamong mereka. Pada hari Senin, mereka kembali lagi ke asrama dan menjalani hari-hari di Wiramuda. Demikian seterusnya.

Walaupun mungkin terdengar biasa saja, kegiatan mereka sangat menyenangkan. Sejak awal, mereka diberikan pelajaran-pelajaran yang beda dari yang lain. Pelajaran mereka tidak dapat ditemukan di sekolah-sekolah formal biasa. Bahkan mereka juga mendapatkan mentor-mentor yang berpengalaman. Mulai dari Hikmat Kurnia (business owner Agromedia), Prie GS (kolumnis dan budayawan Indonesia), Kristian (pemilik BPR Gunung Riski), Aji Prayitno (pemilik BPR ), Jodhi Yudhono (budayawan Indonesia), dan masih banyak lagi.

Kini, Wiramuda telah beranjak menuju bulan ke-empat. Dimulai sejak bulan Desember tahun 2008 lalu, sekelompok calon pengusaha muda ini semakin memantapkan langkah menuju dunia bisnis. Mereka selalu bersemangat menjalani hari-hari. “Setiap hari pasti ada aja yang baru”, ujar anak-anak Wiramuda tanpa diminta memberikan kesan satu per satu.

0 comments:

Post a Comment